Jumat, 10 Oktober 2014
022019. ENSIKLOPEDI BUAH DURIAN / PANDEGLANG.
Ketika jalan-jalan lengkap sekeluarga, kemudian ada yang melihat penjual durian dan saya menghentikan kendaraan, anak-anak yang sudah dewasa dan berkeluarga serempak berguman, naaah pasti papah dan mamah bersitegang. Maksudnya bersitegang dalam soal memilih durian, memang isteri saya orang yang paling membantah soal methode pilihan durian saya.
Bisa dipahami, dia dinikahi di Lampung Utara tempatnya buah durian, lahir di Jakarta dan dari kecil dikukut neneknya di Pandeglang. Jadi soal buah-buahan dia orangnya, anda yang tinggal dikota Bandung pernah tahu buah Kapundung, buah Jaura, atau buah Kepayang. Padahal itu nama-nama tempat di kota Bandung, saya tahu buah-buah itu ya dari isteri saya.
Waktu kecil di Pandeglang setiap pagi dimusim durian dia berangkat ke kebun Kepuh menunggu durian jatoh, disemak pinggir jalan banyak durian jatohan punya orang lain bergeletakan, tapi mereka tidak mengambil durian orang lain, dia menunggu buah durian si MasyaAllah jatoh.
Dinamai seperti itu karena setiap orang yang disuguhi durian ini, selalu berucap Masya Allah, terutama ketika durian itu dibelah, mungkin karena buahnya besar, isinya tebal, warnanya kuning menarik dan legit pastinya.
Disini tiap keluarga punya durian unggulan dan diberi label, ada yang namanya si Wadana, karena dahulu durian kesukaan bapak Wadana, ada cerita dari si Wadana ini, karena pohonnya tumbuh di pinggir jalan, waktu musim besar buah durian, buah yang jatoh juga lebat, sampai …aaaw, menimpa orang lewat, terpaksa siempunya ngobati kerumah sakit.
Ada si Regen sebuah jabatan tinggi jaman kolonial Belanda, ada lagi namanya si Kontol Embe, yang punya masih saudara, duriannya enak dan legit katanya, lebat buahnya, dalam satu dahan berhimpitan dari pangkal dahan sampai keatas. Tapi, ini yang tapinya, buahnya melingker bengkok dan bulat, isinya paling banyak satu kangkot, terdiri dari dua nyamplung, persis kan.
Ada namanya si Boboko, mungkin karena ukuran buahnya yang sangat besar. Ada juga namanya si Picung, buah durian ini tampilan luarnya sangat bagus seperti Monthong lah, tapi begitu jatoh dari pohonnya, brooot….., dan isinya yang warna putih berantakan, anda masih ingat durian yang ditunggu malam-malam di Fak-Fak, mungkin varitasnya sama. Dahulu durian ini tidak ada yang mungut biar berjatuhan, apalagi yang nunggu, tapi belakangan sama bandar durian setelah tua dipetik dari pohonnya, kemudian dibawa ke Jakarta, eee...laku.
Kemaren anak cikal perempuan saya datang dari Jakarta, pergi belanja sama ibunya dan pulang membawa durian Monthong yang sudah dikupas dalam stereofom, untuk bapaknya yang suka durian. Azan magrib berku mandang mau mencicipi buah durian, ketika plastik trasparan yang menutupi daging buah disobek, kulit ari daging buah durian Monthong yang berwarna kuning, ikut terkelupas dan kelihatan daging buah bagian dalan berwarna putih dan basah, memang dagingnya tebal, tapi saya yakin jika buah durian ini dibiarkan matang dipohon dan ditunggu jatoh, dia akan senasib dengan si Picung, jika melihat tampilannya seperti satu varitas antara si Picung, Monthong dan Fak-Fak. sekarang buah durian itu masih teronggok didalam eskast.
Di kampung ini setiap durian seperti punya setempel, kok bisa, yaaah, begitulah, sehingga si Citra kalau balik dari kebun mesti bawa durian si Dadap. Kalau si Wangsa balik dari kebun membawa durian si Dadap, patut dipertanyakan orang. Itu dahulu jaman tahun lima puluhan, tahun lalu saya mudik ke Pandeglang, dibawah kebun durian banyak sedan mahal nopol B diparkir, di kebunnya sudah dibuat dangau untuk pemilik baru menunggu buah durian jatoh.
Sobari1sobar@gmail.com
Paartikeliir di Bandung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar